Bayangan yang Mengajariku Menyiksa
Di lembah terpencil yang diselimuti kabut abadi, tumbuhlah kami. Lian, si sulung yang gagah perkasa, dan aku, Mei, si bungsu yang tersembunyi di balik bayang-bayangnya. Kami bukan saudara kandung, bukan pula sahabat biasa. Kami adalah saudara sumpah darah, terikat janji setia di bawah pohon sakura yang kini layu.
Lian, dengan mata setajam elang dan senyum yang bisa meluluhkan batu, adalah matahari dalam hidupku. Dialah yang mengajariku memegang pedang, membaca puisi, dan memendam amarah. Tapi matahari itu punya sisi gelap. Bayangan yang selalu mengikutinya, bayangan yang mengajariku menyiksa.
"Mei," bisiknya suatu senja, di bawah langit yang berdarah, "Dunia ini kejam. Hanya yang kuat yang bertahan. Jadilah kuat, Mei. Lebih kuat dariku."
Kata-kata itu adalah benih yang ditanam di hatiku. Benih keraguan, ketakutan, dan dendam.
Waktu berlalu, dan kami menjadi pilar kekuatan Klan Naga. Lian menjadi pemimpin yang dihormati, aku menjadi tangan kanannya yang mematikan. Bersama, kami menaklukkan musuh, melindungi desa, dan mengukir nama kami dalam legenda. Tapi di balik semua itu, misteri berputar seperti pusaran air.
Semakin aku dalami masa lalu kami, semakin jelas bahwa ada yang disembunyikan. Sejarah Klan Naga penuh dengan pengkhianatan dan intrik, dan Lian berada di tengahnya.
Aku mulai melihat retakan dalam senyumnya, mendengar nada getir dalam suaranya. Rahasia apa yang begitu membebani pundaknya?
Suatu malam, di kuil kuno yang penuh debu, aku menemukan gulungan rahasia. Di sana tertulis jelas: Lian, anak haram dari garis pengkhianat. Dialah yang seharusnya tidak pernah dilahirkan. Dialah yang membawa kutukan bagi Klan Naga.
Dunia terasa runtuh. Semua yang kuketahui, semua yang kupercaya, hanyalah kebohongan belaka. Lian, matahariku, ternyata adalah sumber kegelapan.
"Mengapa, Lian?" tanyaku, dengan suara bergetar, saat aku menghadapinya di bawah pohon sakura yang layu. "Mengapa kau menyembunyikan ini dariku?"
Lian hanya tersenyum pahit. "Kau tidak akan mengerti, Mei. Kau terlalu polos. Terlalu baik."
"Terlalu baik?" Aku tertawa sinis. "Kau yang mengajariku menjadi kejam, Lian! Kau yang mengajariku menyiksa!"
Pertempuran pun pecah. Pedang kami berdenting di bawah cahaya bulan yang pucat. Setiap tebasan adalah pertanyaan, setiap tangkisan adalah jawaban. Kami menari dalam lingkaran kematian, terikat oleh cinta dan kebencian.
Akhirnya, aku berhasil melukainya. Pedangku menembus dadanya, tepat di jantungnya.
Lian tersenyum, darah mengalir dari mulutnya. "Aku tahu ini akan terjadi, Mei. Aku selalu tahu."
"Mengapa?" bisikku, air mata membasahi pipiku. "Mengapa kau membiarkanku membunuhmu?"
"Karena hanya dengan cara inilah kau bisa membebaskan diri dari bayanganku."
Dia meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Mei… lindungi… mereka… Maafkan aku…"
Lian menghembuskan napas terakhirnya.
Aku berdiri di sana, di bawah pohon sakura yang layu, memegang pedang berlumuran darah. Aku telah membalas dendam. Aku telah mengungkap kebenaran. Tapi di dalam hatiku, hanya ada kehampaan.
Aku telah menjadi monster yang dia ciptakan.
Dan sekarang, giliranmu yang menderita…
You Might Also Like: Jualan Skincare Usaha Sampingan Online