Hujan kota Jakarta mengetuk jendela apartemenku, iramanya serupa notifikasi yang tak henti-hentinya berdentang di ponselku. Bukan notifikasi darinya, tentu saja. Notifikasi yang kurindu lebih dari aroma kopi yang mengepul di cangkirku, lebih dari mimpi yang diam-diam kucuri di tengah malam.
Namanya adalah Ren.
Dan kami... kami adalah kutukan.
Keturunan keluarga yang dipisahkan oleh rahasia yang lebih kelam dari langit Jakarta di musim hujan. Keturunan dua keluarga yang, menurut legenda kuno, tidak ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dulu, aku tertawa mendengar cerita itu. Dulu.
Kami bertemu di dunia yang serba cepat dan serba ada. Lewat aplikasi kencan yang menjanjikan kebahagiaan instan. Awalnya hanya saling melempar emoji dan pujian basi. Lalu, obrolan larut malam yang mengungkap tawa dan luka. Kami berbagi playlist favorit, saling mengirim foto matahari terbit dan quotes puitis. Kami jatuh cinta, seperti anak-anak kecil yang baru pertama kali merasakan manisnya permen kapas.
Namun, takdir punya rencana lain.
Keluarga kami. Dua dinasti bisnis yang saling bersaing, terikat oleh perjanjian kuno yang dilanggar oleh kakek buyut kami. Perjanjian yang, ketika dilanggar, mendatangkan kutukan: keturunan mereka tidak akan pernah menemukan kebahagiaan sejati bersama.
Ren tahu. Dia sudah tahu sejak awal. Itulah mengapa, suatu malam, dia menghilang. Tanpa jejak. Tanpa penjelasan. Hanya sisa chat yang tak terkirim di ponselku, berisi kata-kata yang terasa seperti pecahan kaca yang tajam: "Maafkan aku. Kita tidak bisa."
Hari-hari berikutnya adalah kabut kelabu. Aku mencoba melupakannya. Mencari pelipur lara dalam gemerlap lampu kota, dalam pesta-pesta mewah yang penuh dengan wajah-wajah asing. Namun, di setiap sudut kota, aku melihatnya. Bayangannya mengejekku, mengingatkanku akan cinta yang tak mungkin.
Perasaan kehilangan itu samar, namun menusuk. Seperti jarum suntik yang perlahan meracuni hatiku. Aku mulai menggali. Mencari tahu apa sebenarnya rahasia di balik kutukan itu. Aku menemui tetua-tetua keluarga, membaca buku-buku kuno, menjelajahi lorong-lorong waktu yang berdebu.
Dan akhirnya, aku menemukannya.
Kebenaran yang lebih menyakitkan daripada kutukan itu sendiri.
Kakek buyut Ren, dialah yang melanggar perjanjian itu. Dialah yang memulai rantai kesengsaraan ini.
Lalu, sebuah ide muncul di benakku. Sebuah ide yang manis, dingin, dan mematikan. Sebuah balas dendam lembut.
Aku tahu kelemahan keluarga Ren. Aku tahu titik lemah bisnis mereka. Aku tahu bagaimana membuat imperium mereka runtuh.
Aku menggunakan semua yang kupelajari, semua koneksi yang kumiliki, untuk menghancurkan mereka. Bukan dengan teriakan dan amarah, tapi dengan senyum yang menawan dan kata-kata yang manis. Aku bermain-main dengan mereka, seperti kucing bermain dengan tikus sebelum menerkamnya.
Di malam kemenangan terakhirku, aku berdiri di balkon apartemenku, menatap gemerlap lampu kota. Ponselku berdering. Nomor tak dikenal.
Aku menjawab.
Hening.
Lalu, suara Ren.
Lembut, berbisik, memilukan.
"Kau berhasil."
"Ya," jawabku, dingin.
"Aku tidak menyalahkanmu."
"Aku juga tidak mengharapkan maafmu."
Hening lagi.
Lalu, dia menutup telepon.
Aku memejamkan mata. Hujan semakin deras. Air mata mengalir di pipiku. Aku meraih ponselku dan mengetik sebuah pesan. Pesan terakhir.
Aku mengirimkannya.
Sebuah foto. Diriku. Tersenyum. Dan di belakangku, fajar menyingsing, mengusir kegelapan.
Pesan itu berbunyi: "Selamat tinggal, Ren. Terima kasih atas segalanya."
Aku mematikan ponselku.
Kini, yang tersisa hanyalah kehampaan yang indah, di mana dendam dan cinta berdansa dalam harmoni yang aneh... dan aku bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang telah mengutuk siapa?
You Might Also Like: Kau Bilang Cinta Sudah Mati Tapi
0 Comments: