Tangisan yang Menjadi Teman Tidur
Malam itu, salju turun bagai bulu angsa iblis, menutup Kota Terlarang dengan selimut putih yang tak suci. Darah, merah pekat, mengotori kesucian itu. Bau anyirnya bercampur dengan aroma dupa yang membakar di kuil leluhur, menciptakan simfoni kematian yang sunyi.
Di tengah kuil, berdiri Li Wei, seorang wanita yang dulu dikenal dengan senyumnya yang merekah seperti bunga plum di musim semi. Sekarang, senyum itu layu, digantikan tatapan dingin yang menusuk jantung. Di hadapannya, berlutut Kaisar Zhao, pria yang dulu dicintainya dengan sepenuh jiwa, pria yang kini menjadi target balas dendamnya.
"Zhao…," bisiknya, suara seraknya memecah kesunyian. "Dulu, aku memanggilmu dengan penuh cinta. Sekarang, hanya KEBENCIAN yang bersemayam di hatiku."
Kaisar Zhao, dengan wajah pucat pasi, mendongak. Matanya, dulu penuh gairah, kini dipenuhi ketakutan. "Wei… aku…"
"DIAM!" bentak Li Wei, suaranya menggelegar. Ia mengangkat belati perak, cahayanya memantulkan api unggun yang menari-nari, seolah mengejek penderitaan Zhao. "Dulu, kau berjanji sehidup semati. Janji di atas abu persaudaraan, kau ingat? Sekarang, aku datang menagih janji itu!"
Kilasan masa lalu menghantam benak Li Wei. Ia melihat adegan pengkhianatan: Kaisar Zhao menikahi wanita lain, demi ambisi politik. Ia melihat ibunya, seorang selir kesayangan yang difitnah dan dibunuh dengan keji, atas perintah selir yang baru. Ia melihat dirinya sendiri, terbuang dan hina, hidup dalam bayang-bayang dendam.
Air mata mengalir di pipi Li Wei, membasahi wajahnya yang dingin. Air mata itu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata amarah, air mata balas dendam yang membara. "Setiap malam, aku mendengar tangisanmu, Zhao. Tangisan mereka yang kau sakiti. Sekarang, tangisan itu akan menjadi teman tidurmu selamanya."
Dengan gerakan cepat, Li Wei mengayunkan belati perak. Tidak untuk membunuh. Melainkan untuk melukai. Ia mengukir satu per satu kejahatan Zhao di tubuhnya, setiap luka terasa lebih sakit daripada kematian seribu pedang.
"Darah ini," bisiknya, setiap bisikan seperti racun yang mematikan, "adalah tinta yang akan menulis sejarah kelammu. Setiap tetesnya akan menghantuimu di alam baka."
Kaisar Zhao hanya bisa mengerang kesakitan, pasrah pada takdirnya. Ia tahu, ia pantas mendapatkan ini. Ia tahu, ia telah menghancurkan hati Li Wei, dan sekarang, ia akan membayar harga yang setimpal.
Setelah selesai dengan "lukisannya", Li Wei berdiri. Ia menatap Kaisar Zhao dengan tatapan yang begitu dingin hingga terasa membekukan tulang sumsum. "Kau telah mengambil segalanya dariku, Zhao. Tapi ingatlah ini: aku yang mengakhiri segalanya."
Ia berbalik, meninggalkan Kaisar Zhao yang merintih kesakitan di tengah salju. Ia berjalan keluar dari kuil, meninggalkan aroma dupa dan darah, meninggalkan janji yang dilanggar dan hati yang hancur. Ia meninggalkan BALAS DENDAM yang sempurna.
Di luar, ia menatap langit malam yang kelam. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, menghiasi bibirnya. Ini adalah akhir dari sebuah babak. Awal dari sebuah era baru.
Namun, di balik senyum itu, tersimpan sebuah rahasia yang jauh lebih gelap, sebuah kebenaran yang akan mengguncang seluruh kerajaan…
Dan suara gemerisik kain sutra menyapu lantai marmer, menyiratkan bahwa malam ini, ia bukanlah satu-satunya yang haus darah.
You Might Also Like: Reseller Skincare Bisnis Tanpa Stok
0 Comments: