Air Mata yang Menjadi Penebusan
Hujan gerimis membasahi paviliun bambu. Di dalam, Ling Xiaoyun, dengan gaun cheongsam putih polos, memetik senar guqin. Nada-nada itu lirih, menusuk kalbu, seperti bisikan penyesalan di malam yang sepi. Lima tahun sudah berlalu sejak malam itu. Malam pengkhianatan.
Dulu, Ling Xiaoyun adalah tunangan pewaris keluarga Lin, Lin Tianyu. Mereka adalah pasangan ideal, lambang kesempurnaan di mata masyarakat. Namun, kesempurnaan itu hancur berkeping-keping saat ia memergoki Tianyu bermesraan dengan sahabatnya, Mei Lan, tepat di malam pertunangan mereka.
Sakit? Tentu. Marah? Sudah pasti. Tapi, Ling Xiaoyun memilih DIAM. Bukan karena lemah. Ia menyimpan sebuah RAHASIA yang lebih besar daripada rasa sakit hatinya. Rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan bukan hanya dirinya, tetapi juga seluruh keluarga Lin.
Lima tahun berlalu dalam keheningan. Tianyu menikahi Mei Lan, mewarisi perusahaan keluarga, dan hidup dalam kemewahan. Ling Xiaoyun? Ia mengasingkan diri di paviliun bambu, hanya ditemani guqin dan kenangan pahit.
Namun, ketenangan itu mulai terusik. Surat-surat anonim mulai berdatangan. Isinya? Petunjuk-petunjuk samar tentang MASA LALU yang kelam. Petunjuk yang perlahan-lahan menguatkan kecurigaan Ling Xiaoyun. Ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Salah satu surat berisi potongan koran lama, melaporkan tentang kematian mencurigakan kakek Lin Tianyu. Diduga serangan jantung, tetapi ada kejanggalan dalam laporan medis. Ling Xiaoyun mulai menyelidiki. Ia menggali lebih dalam, menyusuri labirin kebohongan yang dibangun bertahun-tahun lalu.
Semakin ia menyelidik, semakin jelaslah bahwa Mei Lan bukanlah wanita polos seperti yang terlihat. Ia licik, ambisius, dan terlibat dalam konspirasi untuk merebut kekayaan keluarga Lin. Pengkhianatan lima tahun lalu hanyalah puncak gunung es.
Puncaknya terjadi di perayaan ulang tahun Tianyu. Ling Xiaoyun datang, membawa bukti yang tak terbantahkan. Bukan dengan amarah, bukan dengan cacian. Ia hanya menyerahkan dokumen-dokumen itu kepada Tianyu, di depan semua tamu undangan.
Tianyu terkejut. Mei Lan pucat pasi. Kebenaran akhirnya TERUNGKAP. Skandal itu mengguncang keluarga Lin. Tianyu, yang selama ini dibutakan cinta, merasa dikhianati dua kali lipat. Perusahaan Lin pun terancam bangkrut akibat ulah Mei Lan.
Ling Xiaoyun tidak melakukan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, menyaksikan takdir berbalik arah. Balas dendamnya bukanlah kekerasan, tetapi kebenaran yang terkuak. Rasa sakit yang ia pendam selama lima tahun, perlahan-lahan terbayarkan.
Tianyu dan Mei Lan akhirnya kehilangan segalanya. Keluarga Lin terpecah belah. Dan Ling Xiaoyun, dengan air mata yang akhirnya menjadi penebusan, kembali ke paviliun bambunya, memetik senar guqin, kali ini dengan nada yang lebih tenang.
Malam itu, saat bulan purnama menyinari wajahnya, Ling Xiaoyun tersenyum tipis, menyadari bahwa kebenaran memang pahit, namun kebenaran juga...MEMBEBASKAN.
Tapi, satu pertanyaan masih menggantung di benaknya: siapakah pengirim surat-surat anonim itu?
You Might Also Like: 5 Rahasia Arti Mimpi Menyelamatkan
0 Comments: