Bayangan yang Mengajariku Menyiksa Di tepian Danau Bulan Purnama, lentera-lentera bercahaya menari di atas air, pantulannya mengoyak malam...

Bikin Penasaran: Bayangan Yang Mengajariku Menyiksa Bikin Penasaran: Bayangan Yang Mengajariku Menyiksa

Bikin Penasaran: Bayangan Yang Mengajariku Menyiksa

Bikin Penasaran: Bayangan Yang Mengajariku Menyiksa

Bayangan yang Mengajariku Menyiksa

Di tepian Danau Bulan Purnama, lentera-lentera bercahaya menari di atas air, pantulannya mengoyak malam menjadi serpihan mimpi. Di sanalah aku menemukannya. Bayangan yang bicara, yang terpisah dari tubuh. Ia mengenalku dengan nama yang lama hilang: Lian.

"Lian," bisiknya, suaranya serak bagai gesekan batu di dasar sungai, "Kau kembali. Waktunya telah tiba."

Aku tidak ingat apa-apa. Dunia ini, dunia roh yang berlumur cahaya rembulan dan aroma bunga roh yang memabukkan, terasa asing sekaligus akrab. Aku hanya ingat sepotong ingatan: sakit yang tajam, kegelapan yang menyelimuti, dan kemudian... terjatuh.

Bayangan itu memperkenalkan dirinya sebagai Shifu, guruku. Ia mengajariku seni menekuk takdir, seni memanipulasi rasa sakit. Pelatihannya brutal, tanpa ampun. Setiap tetes keringat, setiap luka, membangkitkan ingatan yang samar-samar. Ingatan tentang dunia manusia, tentang pengkhianatan, tentang cinta yang berubah menjadi racun.

"Kau mati, Lian," bisik Shifu suatu malam, saat bulan purnama membelah langit menjadi dua. "Di dunia manusia, kau dibunuh. Tapi kematianmu adalah awal dari takdir barumu. Di sini, di Alam Roh, kau bisa membalas dendam."

Dendam. Kata itu bergaung dalam diriku. Rasa sakitnya menusuk lebih dalam dari pedang.

Lentera-lentera di Danau Bulan Purnama berkedip, seolah setuju. Bulan, sang saksi bisu, seolah mengingat setiap detail kematianku.

Aku mulai berlatih dengan tekun. Bayangan Shifu melatihku, mengajariku cara membaca benang takdir, cara merobeknya dengan kekuatan roh. Aku belajar menyalurkan rasa sakit menjadi senjata.

Dunia manusia, di sisi lain, terasa jauh dan buram. Sesekali, aku melihatnya dalam mimpi: seorang pria dengan mata sedalam malam, wajah yang menyimpan kesedihan abadi. Dia memanggil namaku. Dia mencintaiku.

Apakah dia yang membunuhku?

Keraguanku tumbuh seperti lumut beracun. Shifu melarangku mengingatnya. "Cintanya adalah kelemahanmu, Lian. Kekuatanmu ada dalam rasa sakit, dalam dendam."

Semakin lama aku berada di Alam Roh, semakin kabur batas antara realitas dan mimpi. Aku mulai bertanya-tanya: Siapa Shifu sebenarnya? Mengapa dia begitu bersemangat melatihku? Apa tujuannya?

Suatu malam, aku menemukan sebuah lukisan di gua tersembunyi. Lukisan itu menggambarkan Shifu. Bukan sebagai bayangan, tapi sebagai seorang pria. Pria yang sama dengan yang ada dalam mimpiku. Pria yang matanya sedalam malam.

Kebohongan.

Shifu memanipulasiku. Dia menggunakan rasa sakitku, dendamku, untuk mencapai tujuannya. Tapi apa tujuannya?

Saat itu, aku menyadari: dia tidak ingin aku membalas dendam. Dia ingin aku menjadi senjatanya. Senjata untuk menghancurkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Bulan, saksi bisu, bersinar lebih terang. Ia seolah berbisik: "Kau harus memilih, Lian. Cinta atau dendam. Takdir atau kebebasan."

Aku berbalik menghadap Shifu. "Mengapa kau membohongiku?"

Bayangan itu tertawa. Tawa yang mengerikan, tanpa emosi. "Karena kau terlalu naif, Lian. Kau percaya cinta itu nyata. Padahal, cinta hanyalah ilusi."

Tapi di matanya, aku melihat sesuatu yang lain. Bukan kebohongan, tapi kesedihan. Kesedihan yang sama dalam mata pria di duniaku.

Saat itulah aku mengerti. Dia tidak memanipulasiku karena kebencian. Dia melakukannya karena cinta. Cinta yang salah arah, cinta yang terdistorsi oleh rasa sakit masa lalu.

Siapa yang mencintai? Siapa yang memanipulasi? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam benakku.

Pada akhirnya, hanya ada satu hal yang pasti: takdirku adalah milikku. Bukan miliknya, bukan milik Shifu, bukan milik siapapun.

Dan aku akan menulisnya sendiri.

Debu dan bayangan akan menari dalam kebenaran yang terungkap.

You Might Also Like: 111 Cara Tabir Surya Non Nano Untuk

0 Comments: