Bayangan yang Mengikuti Langkahku
Angin malam mengusap wajah Lin Yuexi, selembut sutra namun sedingin es. Di bawah rembulan pucat, Istana Teratai yang dulu menjadi saksi cintanya, kini hanya menyisakan puing-puing kenangan yang menyesakkan. Dulu, ia adalah bunga teratai yang mekar penuh cinta di sisi Kaisar. Sekarang, ia hanya bayangan, berjalan di antara reruntuhan hidupnya sendiri.
Dihancurkan. Kata itu terlalu ringan untuk menggambarkan apa yang telah diperbuat padanya. Cinta, pengkhianatan, kekuasaan – ketiganya berkonspirasi merenggut segalanya. Keluarga, kehormatan, bahkan mimpi-mimpinya hancur berkeping-keping di bawah kaki kekuasaan seorang Kaisar yang pernah bersumpah untuk melindunginya.
Namun, dari abu kehancuran, Lin Yuexi menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu ada. Kekuatan itu bukan berasal dari teriakan amarah, melainkan dari ketenangan yang mematikan. Balas dendam bukan lagi bara api yang membakar, melainkan aliran sungai es yang membekukan. Ia tidak akan membalas dengan pedang, melainkan dengan strategi.
Setiap langkahnya adalah perhitungan, setiap senyumnya adalah topeng. Ia kembali ke istana, bukan sebagai Lin Yuexi yang dulu, melainkan sebagai Nyonya Xu, seorang penjahit istana yang rendah hati namun memiliki mata yang melihat segalanya. Ia menjahit, bukan hanya pakaian, tapi juga benang-benang takdir, mengikat dan melepaskan sesuai kehendaknya.
Ia mempelajari seluk-beluk istana, kelemahan setiap orang, ambisi yang tersembunyi di balik senyum manis. Ia menabur bibit keraguan, memupuk persaingan, dan membiarkan intrik istana bekerja untuknya. Ia menjadi dalang yang tak terlihat, menggerakkan bidak-bidak catur di atas papan yang luas, dengan tujuan akhir yang hanya ia ketahui.
Di tengah intrik yang kejam, secercah kelembutan masih bersemi di hatinya. Ia menemukan teman dalam diri Mei Lan, seorang pelayan istana yang setia dan berani. Mei Lan menjadi matanya, telinganya, dan terkadang, juga hatinya.
Suatu malam, di bawah cahaya bulan yang sama, Lin Yuexi berdiri di balkon Istana Teratai. Di kejauhan, tampak Kaisar yang dulu dicintainya, kini dikelilingi oleh para selir dan pejabat istana. Ia tidak lagi merasakan amarah, hanya kekosongan yang dingin. Ia telah merencanakan semuanya dengan sempurna. Kerajaannya, yang ia bangun di atas darah dan air mata orang lain, akan segera runtuh.
Ia menutup mata, merasakan hembusan angin malam yang membawa bisikan masa lalu. Ia membuka mata, dan di matanya terpancar ketenangan yang mematikan.
Sebab mahkota yang sebenarnya, bukanlah mahkota yang diberikan, melainkan mahkota yang direbut dengan kesabaran dan kecerdasan; dan sekarang, ia akan memakainya.
You Might Also Like: Cerpen Terbaru Bayangan Yang
0 Comments: