Aku Menatapmu Pergi dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak Bab 1: Bunga Plum di Bukit Seribu Mimpi Rinai musim semi membasahi kelopak bu...

Dracin Seru: Aku Menatapmu Pergi Dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak Dracin Seru: Aku Menatapmu Pergi Dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak

Dracin Seru: Aku Menatapmu Pergi Dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak

Dracin Seru: Aku Menatapmu Pergi Dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak

Aku Menatapmu Pergi dengan Tenang, Padahal Dadaku Berteriak

Bab 1: Bunga Plum di Bukit Seribu Mimpi

Rinai musim semi membasahi kelopak bunga plum yang baru merekah di Bukit Seribu Mimpi. Di bawah pohon tertua, berdiri seorang wanita muda bernama Mei. Gaun sutra putihnya berkibar tertiup angin, menyamarkan lekuk tubuhnya yang ramping. Matanya, sekelam malam tanpa bintang, terpaku pada sosok yang menjauh di jalan setapak.

Dia, Pangeran Jian, calon pewaris tahta, berjalan tanpa menoleh. Posturnya tegak, namun Mei bisa merasakan beban yang dipikulnya. Beban takdir yang sama, yang mengikat mereka berdua.

Mei menatapnya pergi dengan tenang, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang getir. Padahal, di dalam dadanya, badai amarah dan kesedihan mengamuk. Dadanya BERTERIAK.

"Seratus tahun," bisiknya pada angin. "Seratus tahun berlalu, dan kita bertemu lagi."

Sebuah suara, suara yang dikenalnya meski telah melewati seratus musim gugur dan seratus musim semi, berbisik di benaknya. "Jangan lupakan janji kita, Mei."

Bab 2: Gema dari Kehidupan Lampau

Mei adalah reinkarnasi dari Linhua, seorang pelukis istana seratus tahun lalu. Linhua, yang jatuh cinta pada Pangeran Jian, atau lebih tepatnya, pewaris tahta bernama Rong yang bernasib tragis. Cinta mereka terlarang, dicemari oleh ambisi dan pengkhianatan.

Rong, yang berjanji menikahi Linhua dan meninggalkan tahta demi cinta mereka, justru mengkhianatinya. Dia menikahi putri dari kerajaan musuh untuk memperkuat posisinya. Linhua, yang mengandung anaknya, dijebak atas tuduhan pengkhianatan dan dieksekusi di depan mata Rong.

Rong, yang menyesali perbuatannya, bunuh diri setelah kematian Linhua. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, dia bersumpah akan mencari Linhua di setiap kehidupannya, menebus dosa-dosanya.

Namun, takdir memiliki caranya sendiri. Mei, reinkarnasi Linhua, dilahirkan di keluarga sederhana. Dia tidak mengingat masa lalunya, hanya merasakan deja vu yang kuat setiap kali melihat Pangeran Jian. Mimpi-mimpi aneh menghantuinya, dipenuhi lukisan bunga plum dan wajah seorang pria yang penuh penyesalan.

Bab 3: Misteri Terungkap

Mei bekerja sebagai pelayan di istana, secara sukarela mendekati Pangeran Jian. Dia ingin memahami mengapa hatinya berdenyut sakit setiap kali pria itu berada di dekatnya.

Pangeran Jian, tanpa menyadari hubungan masa lalu mereka, tertarik pada Mei. Dia merasakan keakraban, kerinduan yang tidak bisa dijelaskan. Mei mengingatkannya pada sesuatu yang hilang, sebuah fragmen memori yang terus menghantuinya.

Perlahan, kebenaran mulai terungkap. Mei menemukan lukisan Linhua yang disembunyikan di ruang rahasia istana. Sentuhan lukisan itu memicu banjir ingatan: pembunuhan, pengkhianatan, dan sumpah abadi.

Dia ingat segalanya.

Bab 4: Pembalasan yang Senyap

Amarah mendidih dalam diri Mei. Dia bisa saja membalas dendam, menghancurkan Pangeran Jian seperti dia menghancurkan Linhua. Namun, Mei bukanlah Linhua yang naif dan penuh cinta. Dia lebih kuat, lebih bijaksana.

Mei memilih jalan lain.

Dia tidak menuduh, tidak berteriak, tidak menghancurkan. Dia justru mengampuni.

Mei mendekati Pangeran Jian dengan keheningan yang mematikan. Dia mengingatkannya pada janji-janji yang dia ucapkan seratus tahun lalu, janji-janji yang dia ingkari. Dia memperlihatkan padanya lukisan Linhua, menampakkan penyesalan abadi yang terukir di setiap goresan kuas.

Pangeran Jian terguncang. Ingatan Rong menghantamnya dengan keras. Dia ingat segalanya: cintanya pada Linhua, pengkhianatannya, dan bunuh dirinya.

Dia berlutut di hadapan Mei, air mata mengalir di pipinya.

"Ampuni aku," bisiknya. "Ampuni aku, Linhua."

Mei menatapnya dengan tatapan kosong. Tidak ada kebencian, tidak ada cinta. Hanya kehampaan.

"Kamu sudah diampuni," katanya dengan suara sedingin es. "Namun, tidak ada penebusan untuk dosa-dosa yang telah kamu lakukan."

Dia kemudian pergi, meninggalkan Pangeran Jian yang hancur di belakangnya. Pembalasannya bukan dengan kemarahan, tapi dengan keheningan dan pengampunan yang menusuk jantung.

Epilog:

Mei meninggalkan istana dan kembali ke Bukit Seribu Mimpi. Di sana, di bawah pohon plum yang sama, dia duduk dan memandang matahari terbenam.

Seuntai melodi yang familiar berbisik di telinganya, "… Di kehidupan selanjutnya, akankah kita bertemu lagi sebagai orang asing…?"

You Might Also Like: Experienced Hunters Wanted Guide

0 Comments: