Bab 1: Bunga Plum di Tengah Salju Seratus tahun telah berlalu sejak Darah Naga membasahi tanah Kerajaan Han . Seratus tahun sejak janji te...

Drama Seru: Aku Memelukmu Di Pertempuran Terakhir, Dan Mati Dalam Damai Di Dadamu Drama Seru: Aku Memelukmu Di Pertempuran Terakhir, Dan Mati Dalam Damai Di Dadamu

Drama Seru: Aku Memelukmu Di Pertempuran Terakhir, Dan Mati Dalam Damai Di Dadamu

Drama Seru: Aku Memelukmu Di Pertempuran Terakhir, Dan Mati Dalam Damai Di Dadamu

Bab 1: Bunga Plum di Tengah Salju

Seratus tahun telah berlalu sejak Darah Naga membasahi tanah Kerajaan Han. Seratus tahun sejak janji terucap di bawah pohon plum yang meranggas, janji yang terkoyak oleh ambisi dan pengkhianatan. Sekarang, di Kerajaan Zhou yang makmur, Li Wei, seorang pelukis muda dengan mata setajam obsidian dan bibir setipis kelopak bunga plum, merasa ditarik ke kuil kuno di pinggiran kota.

Dia tidak tahu mengapa. Hanya ada dorongan yang membara di dadanya, suara yang asing namun familiar memanggil namanya.

Di kuil itu, di antara debu dan bayangan, dia menemukan lukisan yang belum selesai. Seorang jenderal muda dengan mata sedih, berdiri di medan perang yang penuh bara. Tangan Li Wei bergetar saat menyentuh kanvas. Jantungnya berdebar kencang.

Kemudian dia mendengarnya.

Suara gesekan pedang, teriakan prajurit, dan di atas semuanya, suara bariton yang dalam, "Lin'er... jangan tinggalkan aku."

Lin'er. Bukan namanya. Tapi mengapa hatinya terasa seperti dicabik mendengarnya?

Di saat yang sama, di ibukota Kerajaan Zhou, Pangeran Zhan, seorang pemimpin militer yang disegani dengan aura dingin dan tatapan yang menembus jiwa, merasakan kegelisahan yang aneh. Mimpi buruk menghantuinya setiap malam. Mimpi tentang pedang berdarah, langit yang membara, dan seorang wanita dengan rambut hitam legam dan mata yang penuh kepedihan.

Dia tidak mengerti. Dia hanya tahu satu hal: Dia harus menemukan wanita dalam mimpinya.

Bab 2: Reuni yang Dibayangi Masa Lalu

Takdir, seperti untaian benang merah yang tak terlihat, mempertemukan Li Wei dan Pangeran Zhan di festival lentera. Mata mereka bertemu. Sesaat, dunia menghilang. Hanya ada mereka berdua, terperangkap dalam pusaran waktu dan memori yang terlupakan.

Pangeran Zhan merasakan déjà vu yang kuat. "Siapa kamu?" tanyanya, suaranya serak.

Li Wei tidak tahu jawabannya. Dia hanya tahu dia harus berada di dekatnya.

Mereka mulai menghabiskan waktu bersama. Zhan tertarik pada ketenangan dan kebijaksanaan Li Wei. Li Wei terpesona oleh kekuatan dan kesedihan yang tersembunyi di balik fasad dingin Zhan. Setiap sentuhan, setiap pandangan, membangkitkan kenangan samar tentang masa lalu.

Li Wei menemukan salinan naskah kuno di perpustakaan istana. Naskah itu menceritakan kisah Jenderal Zhan dan Lady Lin, kekasih yang dipisahkan oleh perang dan intrik politik. Lady Lin dituduh berkhianat, meskipun tak bersalah, dan dieksekusi di depan mata Jenderal Zhan. Jenderal Zhan, hancur hatinya, mengamuk di medan perang, akhirnya menemui ajalnya di pertempuran terakhir.

"Dia... aku... kami..." gumam Li Wei, tercengang.

Bab 3: Kebenaran yang Membekukan Jiwa

Mimpi Li Wei menjadi lebih jelas. Dia mengingat malam terakhirnya bersama Zhan, di bawah pohon plum yang mekar di tengah salju. Dia mengingat janjinya untuk selalu mencintainya, bahkan melampaui kematian. Dia juga mengingat pengkhianatan Perdana Menteri, yang menjebaknya karena dendam pribadi.

Dia melihat ke dalam cermin. Wajahnya memang berbeda, tetapi mata itu… mata itu adalah mata Lady Lin. Dia bereinkarnasi.

Pangeran Zhan juga mulai mengingat. Mimpi buruknya menjadi memori. Rasa sakit kehilangan Lin'er kembali menguasainya, seratus kali lebih kuat.

"Lin'er..." bisiknya, air mata mengalir di pipinya. "Aku tidak bisa melindungimu."

Tapi ada satu hal yang berubah. Zhan sekarang memiliki kekuatan untuk membalas dendam. Perdana Menteri, keturunan dari pengkhianat yang membunuh Lady Lin, masih berkuasa. Ia menggunakan posisinya untuk menindas rakyat dan mengkhianati kerajaan.

Bab 4: Balas Dendam dalam Keheningan

Li Wei melarang Zhan untuk membalas dendam dengan kekerasan. "Kematian tidak akan mengembalikan apa pun," katanya dengan tenang. "Kebencian hanya akan melahirkan lebih banyak kebencian."

Dia tahu cara yang lebih baik.

Li Wei, dengan bantuan teman-teman setia Zhan, diam-diam mengumpulkan bukti korupsi Perdana Menteri. Ia menyebarkannya ke seluruh kerajaan. Rakyat marah. Mereka menuntut keadilan.

Zhan, meskipun hatinya ingin menghancurkan Perdana Menteri, mengikuti nasihat Li Wei. Ia membawanya ke pengadilan. Bukti tak terbantahkan. Perdana Menteri dijatuhi hukuman mati.

Di saat-saat terakhirnya, Perdana Menteri menatap Li Wei dengan tatapan penuh kebencian. "Kau... Lady Lin... kau kembali untuk menghancurkanku!"

Li Wei hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Tidak ada amarah, tidak ada dendam. Hanya kehampaan yang menusuk. Ia telah membalas dendam bukan dengan darah, tetapi dengan keheningan dan pengampunan yang lebih kuat dari pedang mana pun.

Bab 5: Senja di Bukit Pasir

Keadilan telah ditegakkan. Kerajaan aman. Tapi Zhan dan Li Wei tahu bahwa masa lalu mereka selamanya akan membayangi mereka.

Suatu senja, mereka berdiri di atas bukit pasir, menatap matahari terbenam.

"Aku mencintaimu, Zhan," kata Li Wei, suaranya lembut.

"Dan aku mencintaimu, Lin'er," jawab Zhan, menggenggam tangannya erat-erat.

Tiba-tiba, bumi bergetar. Angin bertiup kencang. Visi datang kepada Li Wei: Medan perang berdarah, Jenderal Zhan terluka parah, dan Lady Lin berlari ke arahnya.

Dia memeluknya di pertempuran terakhir.

Lalu, semuanya menjadi jelas.

Mereka ditakdirkan untuk bertemu lagi. Bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk menyelesaikan lingkaran kesedihan dan menemukan kedamaian.

Li Wei memeluk Zhan erat-erat.

"Aku memelukmu di pertempuran terakhir," bisiknya. "Dan aku mati dalam damai di dadamu..."

Akankah kita bertemu lagi, di bawah pohon plum yang mekar?

You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Modal Kecil

0 Comments: