Dendam Itu Memeluk Sebelum Membunuh, Karena Ia Pernah Menjadi Kasih
Kabut tipis merayap di lereng Gunung Giok, menyelimuti kuil tua yang nyaris terlupakan. Angin mendesis lirih, membawa bisikan masa lalu. Di dalam kuil, sekelebat bayangan bergerak di antara pilar-pilar kayu yang lapuk. Sosok itu, dengan jubah hitam menyamarkan lekuk tubuhnya, menatap obor yang menari-nari di dinding.
"Lama sekali, Pangeran Ketiga," suara itu berdesir, lembut namun dingin seperti pisau es.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria. Wajahnya familiar, namun ada guratan pahit yang mengubahnya. Dulu, dia dikenal sebagai Li Wei, pangeran ketiga yang ceria. Sekarang, matanya menyimpan lautan duka dan DENDAM.
"Bibi Lan… atau haruskah aku memanggilmu Permaisuri Lan?" Li Wei menyeringai tipis.
Wanita berjubah hitam itu berbalik perlahan. Di wajahnya yang halus, terpancar senyum yang tak kalah dingin. "Kau kembali. Kupikir kau sudah mati di jurang Seribu Matahari. Sangat mengecewakan."
"Jurang itu hanya memurnikanku, Bibi. Api kebencian adalah tempaan terkuat," jawab Li Wei, mendekat perlahan. "Sudah sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku menyusun kembali kepingan masa lalu, kepingan yang kau hancurkan."
Suara angin semakin kencang, menari-nari di sekitar mereka. Aroma dupa dan debu berpadu, menciptakan atmosfer mencekam.
"Kau menuduhku? Aku hanyalah seorang wanita yang mencintai Kaisar," Permaisuri Lan menjawab, nada suaranya naik satu oktaf.
"Mencintai dengan membunuh? Mencintai dengan menyingkirkan semua yang menghalangi? Ibu, saudara-saudaraku… semua mati karena ambisimu," Li Wei menggeram. "Kau pikir aku tidak tahu bahwa kecelakaan itu bukanlah kecelakaan? Kau menyuap kusir kereta, bukan?"
Permaisuri Lan tertawa. Tawa itu kering, tanpa kehangatan. "Kau selalu naif, Wei. Kaisar tidak akan pernah melihatmu jika ibumu masih hidup. Aku hanya mempercepat takdir."
Li Wei menghentikan langkahnya. Cahaya obor menari di wajahnya, menyoroti luka dalam di matanya. "Aku kembali bukan untuk membalas kematian ibuku. Aku kembali untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku."
Permaisuri Lan menyipitkan mata. "Hakmu? Kaisar telah menunjuk Pangeran Mahkota. Kau hanyalah debu yang tertiup angin."
"Debu bisa menjadi badai, Bibi," Li Wei menjawab tenang. Ia mengangkat tangan, dan dari balik bayangan muncul beberapa sosok berjubah hitam. Mereka bergerak senyap, mengurung Permaisuri Lan.
"Kau… kau mengkhianatiku?!" Permaisuri Lan berteriak.
Li Wei tersenyum. Senyum yang mengerikan. "Kau pikir aku kembali sendirian? Kau lupa, Bibi. Dendam adalah guru terbaik. Kau mengajarkanku cara memanipulasi, cara berbohong, cara membunuh."
Dia mendekat, berbisik di telinga Permaisuri Lan. "Kau adalah bidak yang sempurna dalam permainanku. Kau membuatku terlihat sebagai korban, padahal sejak awal… kaulah yang menari mengikuti iramaku."
Permaisuri Lan menatap Li Wei dengan ngeri, menyadari jebakan yang telah menjeratnya. Kata-kata itu bagaikan racun, membakar jiwanya. Kekuatan meninggalkannya, dan dia jatuh berlutut.
Li Wei mundur, mengamati Permaisuri Lan dengan tatapan dingin. Angin menderu kencang, seolah alam semesta turut menyaksikan kejatuhannya.
"Bunuh dia," perintah Li Wei, tanpa emosi.
Saat para penjaga menarik Permaisuri Lan pergi, dia berteriak, "Aku akan mengutukmu! Kau akan menyesal!"
Li Wei hanya tersenyum. Penyesalan adalah kemewahan yang tidak mampu dibayarnya. Dia telah menjadi monster yang diciptakan oleh lingkungannya, dan kini… monster itu telah MENGAMBIL KENDALI PENUH.
Dan kemudian, di tengah sunyinya malam, Li Wei berbisik pada dirinya sendiri: Sebuah tahta yang dibangun di atas darah, akan lebih berlumuran darah lagi.
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bisnis Tanpa Stok
0 Comments: