## Bayangan yang Menyimpan Nama Musuh Gerimis lembut membasahi atap paviliun teh, iramanya seirama dengan degup jantung Lin Wei. Aroma melati dan tanah basah gagal menenangkan gelisah yang mencengkeramnya. Di kehidupan ini, ia hanyalah pelukis muda yang namanya belum dikenal. Namun, dalam mimpinya, ia adalah *Jenderal Agung Lin Shuang*, panglima perang yang ditakuti, dicintai, dan dikhianati. Mimpi-mimpi itu datang bagai pecahan kaca, tajam dan menyakitkan. Flashback peperangan, tatapan penuh kekaguman dari bawahannya, dan yang paling menyakitkan, senyum hangat pengkhianat itu – *Pangeran Zhi*. Lin Wei mengusap lukisan di hadapannya, potret seorang pria muda dengan mata setajam elang dan senyum menawan. Pangeran Zhi. Ia menggenggam kuasnya erat. Di kehidupan ini, Pangeran Zhi adalah *Cheng Yi*, pewaris tunggal dinasti bisnis Cheng yang gemilang. Mereka bertemu secara kebetulan, diperkenalkan oleh seorang teman. Cheng Yi, dengan segala karismanya, berhasil menembus pertahanan hati Lin Wei. Namun, setiap tatapan Cheng Yi, setiap sentuhan tangannya, menghadirkan **BAYANGAN** masa lalu yang menyakitkan. Lin Wei perlahan-lahan mulai mengingat. Momen pengkhianatan di medan perang, racun yang menyakitkan, tatapan kemenangan Pangeran Zhi saat Lin Shuang meregang nyawa. Dendam membara dalam jiwanya. Namun, ia bukanlah Lin Shuang lagi. Ia tak bisa mengangkat pedang dan menuntut balas. Dendam Lin Wei terwujud dalam bentuk yang lebih halus, lebih mematikan. Ia mempelajari seluk-beluk bisnis keluarga Cheng, mengamati kelemahan dan kekuatannya. Ia menjadi penasihat terdekat Cheng Yi, menjadi orang kepercayaan yang tak tergantikan. Ia memberikan saran, membuat keputusan yang *tampak* menguntungkan, namun perlahan menggerogoti pondasi dinasti Cheng dari dalam. Ia tahu betul, Cheng Yi tidak mengingat masa lalu. Ia adalah jiwa yang terlahir kembali, terlepas dari dosa-dosa masa lalu. Namun, Lin Wei tak bisa melupakan. Ia bertekad memastikan bahwa karma masa lalu akan menimpa Cheng Yi, bukan dengan darah dan pedang, tapi dengan kehancuran yang lebih menyakitkan: kebangkrutan, rasa malu, dan kehilangan segalanya. Pada malam perayaan ulang tahun Cheng Yi, Lin Wei berdiri di balkon, menatap bintang-bintang. Ia baru saja menyelesaikan langkah terakhirnya. Satu keputusan yang akan meruntuhkan imperium Cheng. Cheng Yi mendekatinya, tersenyum hangat. "Lin Wei, kau adalah *anugerah* bagiku. Aku tak tahu apa jadinya aku tanpamu." Lin Wei membalas senyum itu. "Cheng Yi, kau akan baik-baik saja." Ia berbalik, melangkah pergi. *Dendam yang tertunda akan terbayar, bahkan setelah seribu musim semi berlalu...*
You Might Also Like: 148 Convert Kilometer Per Hour To Miles
0 Comments: