Baik, ini dia kisah pendek yang terinspirasi dari "Janji yang Kuterjemahkan Jadi Pengkhianatan", dengan sentuhan yang saya coba s...

Dracin Terbaru: Janji Yang Kuterjemahkan Jadi Pengkhianatan Dracin Terbaru: Janji Yang Kuterjemahkan Jadi Pengkhianatan

Dracin Terbaru: Janji Yang Kuterjemahkan Jadi Pengkhianatan

Dracin Terbaru: Janji Yang Kuterjemahkan Jadi Pengkhianatan

Baik, ini dia kisah pendek yang terinspirasi dari "Janji yang Kuterjemahkan Jadi Pengkhianatan", dengan sentuhan yang saya coba sesuaikan dengan permintaan Anda: **Senja di Kedai Hujan** Hujan menggigil di atap kedai teh, menirukan getar dalam dadaku. Sudah lima tahun. Lima tahun sejak *janji* itu patah, menjadi serpihan tajam yang setiap saat menusuk relung hati. Di seberang meja, duduklah dia. Li Wei. Dulu, matanya adalah mentari bagiku. Sekarang, hanya ada **BAYANGAN**, dingin dan asing. Dulu, tawa kami berpadu dengan riang suara lonceng angin. Sekarang, keheningan terasa *memekakkan*. "Lama tidak bertemu, Xia Lan," sapanya, suaranya rendah, *seolah* menyimpan badai di baliknya. Aku hanya mengangguk. Di luar, cahaya lentera kedai nyaris padam, berjuang melawan kegelapan yang kian pekat. Sama seperti harapan dalam diriku. Lima tahun lalu, dia berjanji akan menungguku. Berjanji akan setia, walau badai menerjang. Namun, janji itu hanyalah *kata-kata*. Kata-kata yang diterbangkan angin, lalu digantikan dengan **PENGKHIANATAN**. "Kau terlihat... baik," lanjutnya, ada nada ragu dalam ucapannya. Aku tersenyum tipis. "Begitukah? Mungkin karena aku sudah belajar bagaimana menutupi luka." Dia menunduk. Hujan semakin deras, membasahi kaca jendela, mengaburkan pandangan. Seolah alam pun ikut menangisi kisah kami. Kami membicarakan hal-hal ringan. Cuaca. Pekerjaan. Kehidupan. Setiap kata yang terucap terasa bagai belati yang memutar di luka lama. Aku bisa merasakan **BENCI** tumbuh subur di balik senyumanku. Dulu, aku mencintainya dengan segenap jiwa. Sekarang, setiap detak jantungku adalah *RENCANA*. Rencana yang telah lama kupersiapkan, dengan sabar dan teliti. Saat senja semakin larut, Li Wei mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Dibukanya kotak itu, menampilkan sebuah cincin berlian yang berkilauan. "Xia Lan," ujarnya, suaranya bergetar. "Aku..." Aku mengangkat tangan, menghentikannya. "Li Wei, kau tahu, bukan? Bahwa setiap janji punya harga yang harus dibayar." Dia menatapku, *kebingungan* tercetak jelas di wajahnya. Aku bangkit berdiri. Hujan di luar mulai mereda, menyisakan bau tanah yang basah. Aku mendekatinya, membisikkan sebuah rahasia di telinganya. Rahasia yang selama ini kusimpan rapat-rapat. "Selama ini, kau bertanya-tanya siapa yang membuat perusahaanmu bangkrut, Li Wei?" Aku tersenyum, kali ini senyum yang *sebenarnya*. Senyum kemenangan yang pahit. "Ternyata, 'orang dalam' itu... *adalah aku*. ***Dan cincin itu... hanyalah pemicu***."
You Might Also Like: 56 Hormones And Behavior Role Of

0 Comments: