**Janji yang Diucapkan di Antara Mayat** Langit Jakarta berwarna karat, bukan senja, tapi *kiamat* yang dipaksakan. Sinyal ponsel tinggal satu bar, cukup untuk melihat wajahmu yang buram di layar, **Lin**. Aku, Xiao, terjebak di reruntuhan tahun 2047, di mana oksigen dijual per liter dan kenangan dibeli dengan janji palsu. Kau, Lin, hidup di tahun 1987, kata-katamu terkirim melalui sinyal radio berkarat, melintasi lorong waktu yang compang-camping. Katamu, "Xiao, langit hari ini biru, seperti matamu." Aku tertawa getir. Di sini, biru hanyalah mitos. Setiap malam, di antara desisan statis, kita bertukar cerita. Aku menceritakan tentang robot kucing yang melayani kopi hambar dan gedung pencakar langit yang runtuh menjadi sarang tikus raksasa. Kau menceritakan tentang kaset Walkman yang kusut dan mimpi-mimpi yang belum ternodai asap polusi. Kita berjanji. Janji konyol yang hanya diucapkan oleh dua orang idiot yang jatuh cinta di ujung dunia. Kau berjanji akan menungguku di bawah pohon sakura yang mekar di Kebun Raya Bogor, tempat yang katanya belum rusak. Aku berjanji akan menemukanmu, meski harus merangkak melewati lautan mayat dan reruntuhan teknologi. Setiap hari, aku menggali sisa-sisa peradaban, mencari cara untuk menembus dimensi. Kutemukan sebuah alat aneh, mesin waktu primitif yang terbuat dari radio transistor bekas dan kabel tembaga berkarat. *DEKREPIT!* Aku menyalakannya. Di tahun 1987, kau berdiri di bawah pohon sakura, rambutmu tertiup angin. Kau memegang sebuah Walkman, mendengarkan lagu cinta yang sama yang kita dengarkan setiap malam. Aku melihatmu, Lin. Akhirnya. Tapi ada yang ganjil. Bayanganmu memudar, seperti foto polaroid yang terbakar matahari. Pohon sakura itu bukan pohon sakura, tapi hologram proyeksi. Udara berbau ozon dan keputusasaan. Tiba-tiba, kau menoleh. Bukan menoleh kepadaku, Xiao yang kumuh dan penuh debu. Kau menoleh pada seorang pria dengan jas rapi, yang berdiri di belakangmu, tersenyum sinis. Pria itu identik denganku. Dia berbicara, "Kau tahu, Lin, dia hanya *ECHO* dari kehidupan yang tidak pernah kita pilih." Ternyata, aku bukanlah Xiao yang kau cintai. Aku hanyalah proyeksi, sisa-sisa ingatan yang ditinggalkan oleh Xiao yang **SEBENARNYA**, Xiao yang telah memilih jalan lain, Xiao yang telah memilihmu, Lin, di dimensi yang paralel. Cinta kita hanyalah gema dari kehidupan yang tak pernah selesai, diputar ulang dalam siklus tanpa akhir. Pesan terakhir yang kuterima darimu sebelum layar padam adalah... "Maafkan aku, Xiao, semuanya *TERLALU* rumit..."
You Might Also Like: 85 Riverdale Animal Hospital Riverdale
0 Comments: