**Aku Mencintaimu Sampai Nama Kita Terhapus dari Ingatan Langit** Serpihan salju berputar-putar di sekeliling kami, menari di bawah rembulan yang pucat. Udara dingin menggigit, namun kehangatan tanganmu yang menggenggam tanganku terasa membakar. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali kita berdiri seperti ini, di bawah langit yang sama, di ambang pengakuan yang tak terucap. "Lin Wei," bisikku, suaraku bergetar melawan angin. Namamu bagai mantra yang lama tak kuucapkan, namun tetap merdu di telingaku. Kau menatapku, matamu sekelam malam, namun berkilau oleh genangan air mata yang tertahan. "Xiao Jian, aku..." Kata-katamu menggantung di udara, terpotong oleh deru angin dan dentuman jantungku yang menggila. Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Aku selalu tahu. Cinta kita adalah api yang membara di tengah badai, terlarang namun tak terpadamkan. Namun, badai itu datang. Kau memilih kehormatan keluarga, perjanjian yang harus kau tepati. Kau menikahi orang lain, meninggalkan aku terdampar di lautan penyesalan. *PENYESALAN*. Kata itu bagaikan duri yang menusuk jantungku setiap hari, setiap malam. "Jangan katakan apa pun," potongku, suaraku serak. "Aku tahu. Aku selalu tahu." Kau menggenggam tanganku lebih erat, air mata akhirnya tumpah membasahi pipimu. "Aku *mencintaimu*, Xiao Jian. Aku selalu mencintaimu." Aku tertawa hambar. "Terlambat, Lin Wei. Terlambat untuk segalanya." Kau menggeleng, air mata semakin deras mengalir. "Tidak! Jangan katakan itu. Aku... aku akan melakukan apa saja untuk membuktikannya!" "Apa saja?" Aku menyeringai, bibirku terasa mati rasa. "Kau akan melompat dari tebing untukku? Kau akan membunuh suamimu?" Kau terdiam, mata terbelalak. Kebenaran terpampang jelas di wajahmu. Bahkan cintamu pun ada batasnya. "Aku mengerti," bisikku, melepaskan genggamanmu. Jari-jariku membeku seketika. "Cinta *itu* adalah kemewahan yang tidak bisa kita miliki." Aku berbalik, melangkah menjauh, meninggalkanmu berdiri di bawah salju. Aku merasakan tatapanmu membakar punggungku, namun aku tidak menoleh. Beberapa bulan kemudian, kudengar suamimu meninggal dalam kecelakaan yang *misterius*. Kabarnya, rem blong di jalanan terjal. Kabarnya, tak ada saksi mata. Kabarnya, kau kini mewarisi seluruh kekayaannya. Aku tersenyum tipis. Langit selalu punya cara sendiri untuk menyeimbangkan neraca. Balas dendam tidak selalu berteriak; kadang ia berbisik lembut seperti salju yang menutupi jejak. Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita bisa mencintai tanpa harus membayar harga yang begitu mahal. _Apakah ini awal dari babak baru, atau sekadar akhir yang lebih tragis?_
You Might Also Like: Agen Skincare Peluang Usaha Ibu Rumah
0 Comments: