Baiklah, ini dia kisah tragis ala dracin yang kamu minta: **Kau Mencintaiku dengan Mata Tertutup, dan Aku Percaya Itu Cinta Sejati** Kabu...

Endingnya Gini! Kau Mencintaiku Dengan Mata Tertutup, Dan Aku Percaya Itu Cinta Sejati Endingnya Gini! Kau Mencintaiku Dengan Mata Tertutup, Dan Aku Percaya Itu Cinta Sejati

Endingnya Gini! Kau Mencintaiku Dengan Mata Tertutup, Dan Aku Percaya Itu Cinta Sejati

Endingnya Gini! Kau Mencintaiku Dengan Mata Tertutup, Dan Aku Percaya Itu Cinta Sejati

Baiklah, ini dia kisah tragis ala dracin yang kamu minta: **Kau Mencintaiku dengan Mata Tertutup, dan Aku Percaya Itu Cinta Sejati** Kabut dupa memenuhi paviliun teratai. Mei tercium samar aroma cendana dan darah. Di sanalah, di tepi kolam yang tenang, tumbuhlah persahabatan kami. Aku, Lian, anak haram yang diabaikan, dan dia, Bai, sang pewaris yang disayangi. Kami seperti dua sisi koin naga, terikat namun selalu berseberangan. "Kau terlalu naif, Lian," bisik Bai suatu sore, jemarinya memetik dawai *guqin*. "Dunia ini panggung sandiwara, dan kita semua memainkan peran." "Lalu, peran apa yang kau mainkan, Bai?" tanyaku, menatap matanya yang sekelam malam. "Itu rahasia, Lian. *RAHASIA YANG HANYA AKAN KUUNGKAPKAN PADA SAAT YANG TEPAT.*" Waktu berlalu. Kami tumbuh bersama, berlatih pedang di bawah tatapan elang para tetua, berbagi rahasia di bawah sinar bulan. Aku mencintainya dengan seluruh hatiku, walau tahu ada jurang tersembunyi di antara kami. Dia mencintaiku dengan mata tertutup, dan aku, dengan bodohnya, percaya itu cinta sejati. Rahasia mulai terkuak ketika perang saudara meletus. Keluarga kami, klan naga hitam, bertempur melawan klan burung phoenix. Bai, yang seharusnya memimpin kami menuju kemenangan, malah tampak ragu. Aku melihatnya bertemu dengan utusan klan burung phoenix di hutan bambu. *PENGKHIANATAN* terasa seperti racun yang merayap di nadiku. "Bai, apa yang kau lakukan?" tanyaku, pedang di tangan. Dia berbalik, matanya yang dulu penuh kehangatan kini sedingin es. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Lian. *UNTUK KEPENTINGAN YANG LEBIH BESAR.*" Kata-kata itu seperti cambuk yang mencambuk jiwaku. Aku tahu. Aku selalu tahu. Dia tidak pernah benar-benar menjadi milikku. Pertempuran terakhir terjadi di puncak Gunung Naga. Di sana, di tengah hujan darah dan api, aku dan Bai bertarung. Setiap tebasan pedang adalah ungkapan cinta dan kebencian yang terpendam. "Kenapa, Bai? Kenapa kau mengkhianati kami?" teriakku, air mata bercampur darah membasahi wajahku. "Karena kau, Lian. *KARENA KAU TERLALU KUAT. TERLALU DICINTAI.* Ayahku takut kau akan merebut takhtaku." Aku tertawa getir. "Jadi, selama ini aku hanyalah pion dalam permainanmu?" "Tidak, Lian. *KAU ADALAH PIALA YANG TIDAK BISA KURAIIH.*" Pedangku menembus jantungnya. Dia tersenyum tipis, bibirnya berlumuran darah. "Kau... tahu... kebenaran... tentang... ayahmu?" bisiknya. Aku terdiam. "Ayahmu... bukan... seperti... yang kau... kira..." Dia menghembuskan napas terakhirnya. Aku, berlumuran darahnya, akhirnya mengerti. Ayahku, yang selama ini kukira kejam dan lalai, sebenarnya melindungiku dari intrik kejam di istana. Dia tahu bahwa aku tidak akan aman jika terlalu dekat dengan tahta. Dan Bai... Bai tahu semua itu. Dia tahu bahwa dengan membunuhku, dia akan menyelamatkan diriku sendiri. Dendamku kini menemukan sasaran baru. Para tetua yang licik, yang selama ini memanipulasi Bai, akan merasakan amarahku. Aku akan menghancurkan klan naga hitam, membangunnya kembali dari abu, dan memastikan tidak ada lagi intrik dan pengkhianatan. Aku berbalik, meninggalkan mayat Bai di puncak gunung. Kabut tebal menyelimuti segalanya. "Aku harap kau memaafkanku, Bai... *karena cintaku padamu lebih besar dari kebencianku.*"
You Might Also Like: Jualan Skincare Bisnis Sampingan

0 Comments: