Oke, ini dia kisah Dracin pendek berjudul 'Cinta yang Tak Lagi Punya Nama', dengan bumbu yang Anda minta: **Cinta yang Tak Lagi Punya Nama** Embun pagi di Kuil Tian Shan selalu terasa sama: dingin, menusuk, dan *familiar*. Lin Wei, seorang pelukis muda yang sedang naik daun, selalu merasa ditarik ke kuil kuno itu. Bukan karena keindahan arsitekturnya, melainkan bisikan lembut yang seolah memanggil namanya dari dalam dinding-dinding batu. Lin Wei sering bermimpi. Mimpi aneh tentang taman bunga plum yang bermekaran di musim dingin, seorang pria dengan senyum pahit yang memainkan seruling bambu, dan sebilah belati perak yang berkilauan di bawah rembulan. Mimpi-mimpi itu begitu nyata hingga ia bisa merasakan dinginnya belati di tangannya sendiri. Suatu hari, saat Lin Wei sedang melukis di Kuil Tian Shan, seorang pria mendekatinya. Wajahnya tampan, dengan aura karisma yang kuat. Namanya Zhou Li, seorang pengusaha sukses yang dikenal dengan kedermawanannya. Tapi, saat Zhou Li tersenyum, Lin Wei merasakan *sesuatu yang aneh*, sesuatu yang membuatnya merinding. Senyum itu... SENYUM ITU FAMILIAR. "Lukisanmu indah sekali, Nona Lin," kata Zhou Li, suaranya rendah dan berat. "Seolah kau melukis dari kenangan, bukan imajinasi." Kata-kata itu membuat Lin Wei tertegun. Benarkah begitu? Apakah ia melukis dari kenangan yang bukan miliknya? Sejak saat itu, Zhou Li sering mengunjungi Lin Wei di kuil. Mereka berbicara tentang banyak hal, dari seni hingga filosofi hidup. Semakin lama, Lin Wei semakin terpesona dengan Zhou Li, tapi di saat yang sama, ia juga semakin *takut*. Mimpi-mimpinya semakin intens, semakin jelas. Ia mulai mengingat nama pria dalam mimpinya: Mei Long. Dan pria itu... dibunuh dengan keji. Suatu malam, di bawah sinar bulan purnama, Lin Wei akhirnya ingat semuanya. Ia *adalah* Mei Long, seorang pangeran yang dikhianati dan dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Zhou Li, karena tahta. Ingatan itu menghantamnya seperti gelombang tsunami. "Kau..." Lin Wei terisak, menatap Zhou Li dengan mata berkaca-kaca. "Kau membunuhku." Zhou Li hanya tersenyum. Senyum yang sama, senyum pahit yang ia lihat dalam mimpinya. "Kau selalu terlalu naif, Mei Long. Kekuasaan lebih berharga daripada cinta." Zhou Li menawarkan Lin Wei sebuah perjanjian. Menikahlah dengannya, berkuasalah bersamanya. Lupakan masa lalu, lupakan pengkhianatan. Lin Wei *tertawa*. Tawa yang sinis, tawa yang penuh dengan kepedihan. "Aku memang naif," kata Lin Wei, suaranya dingin. "Tapi aku tidak bodoh. Aku tidak akan pernah menjadi ratu di samping seorang pengkhianat." Lin Wei menolak tawaran Zhou Li. Ia memilih untuk melukis, untuk menciptakan dunia baru di kanvasnya, dunia di mana keadilan ditegakkan dan cinta tidak dikotori oleh ambisi. Ia memilih untuk membangun dirinya sendiri, bukan di atas puing-puing masa lalu, melainkan di atas pondasi yang kuat, pondasi yang dibangun oleh *ingatan* dan *kebijaksanaan*. Zhou Li, dengan amarah membara di matanya, meninggalkan kuil itu. Ia tahu, ia telah kehilangan Mei Long untuk selamanya. Atau, lebih tepatnya, ia telah kehilangan Lin Wei, wanita yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih berbahaya daripada Mei Long yang dulu. Lin Wei menatap lukisan di depannya: taman bunga plum yang bermekaran di musim dingin. Di bawah lukisan itu, ia menulis satu kalimat: "Balas dendam terbaik adalah melupakan." *Namun, apakah ia benar-benar bisa melupakan?* Satu-satunya cara untuk memastikannya adalah dengan terus hidup. Lin Wei memutuskan untuk pindah ke desa terpencil. Dia membuka sekolah melukis kecil dan mengajar anak-anak setempat. Dia menemukan kedamaian dalam keindahan alam dan kegembiraan dalam mata anak-anak. Dia memang melupakan Zhou Li. Atau setidaknya, dia berhasil menekan ingatan itu jauh ke lubuk hatinya. Suatu malam, seorang anak kecil bertanya kepada Lin Wei, "Guru, kenapa kamu selalu melukis bunga plum?" Lin Wei tersenyum. "Karena bunga plum adalah simbol harapan. Bahkan di musim dingin yang paling keras, mereka tetap mekar." Beberapa tahun kemudian, Lin Wei mendengar kabar bahwa Zhou Li telah meninggal dunia. Dia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada sukacita, tidak ada kesedihan. Hanya kehampaan. Saat dia mengunjungi kuil tempat semuanya dimulai, dia duduk di bawah pohon sakura dan melihat bunga-bunga berguguran. Dia ingat mimpi-mimpinya, cintanya yang hilang, dan pengkhianatan yang dia alami. Dia tidak menyesal atas apa pun. Dia bangkit dan berjalan pergi, meninggalkan kenangan di belakangnya. Namun, sebelum dia pergi, dia berbisik, "Sampai kita bertemu lagi, di kehidupan yang baru..."
You Might Also Like: Agen Kosmetik Supplier Kosmetik Tangan
0 Comments: