## Hujan di Jembatan Pelangi yang Pudar Hujan menggigil di atas Kota Sungai Bulan, meresap hingga ke tulang-tulang Li Wei. Ia berdiri di Jembatan Pelangi yang dulu menjadi saksi bisu janji-janji mereka. Janji yang kini terasa seperti serpihan kaca, menggores setiap langkahnya. *Aku berjalan menjauh*, pikirnya, *tapi setiap langkah terasa seperti pengkhianatan baru.* Lima tahun. Lima tahun ia mencoba melupakan tatapan mata itu, suara bariton itu, sentuhan hangat itu. Lima tahun ia mencoba menghapus sosok Zhao Yun dari hatinya. Namun, bayangan Yun tetap saja membayang, seperti *bayangan yang patah* di tengah gemericik hujan. Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang sempurna. Yun, seorang pewaris keluarga Zhao yang kaya raya, dan Wei, seorang seniman jalanan yang penuh semangat. Cinta mereka mekar di tengah keramaian pasar malam, di bawah *cahaya lentera yang nyaris padam*, yang seolah merefleksikan rapuhnya dunia. Namun, kebahagiaan itu hancur berkeping-keping ketika Wei menemukan surat itu. Surat dari seorang wanita yang mengaku mengandung anak Yun. Surat yang mengungkap perselingkuhan Yun selama berbulan-bulan. Wei pergi tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Yun dalam kebingungan dan penyesalan yang mendalam. Lima tahun kemudian, Wei kembali. Ia kembali bukan untuk memaafkan, bukan untuk melupakan. Ia kembali untuk membalas dendam. Ia telah merencanakan segalanya dengan cermat, seperti seorang pelukis yang merangkai warna demi warna untuk menciptakan sebuah mahakarya. Pertemuan pertama mereka terjadi di sebuah galeri seni. Yun, yang kini tampak lebih tua dan lelah, menatap Wei dengan mata yang penuh kerinduan. Wei membalas tatapan itu dengan senyum dingin yang terukir di bibirnya. "Wei..." bisik Yun, suaranya bergetar. "Kau... kau kembali." "Ya, Yun," jawab Wei, suaranya selembut sutra, namun setajam pisau. "Aku kembali. Untuk melunasi *hutang* yang belum terbayar." Serangkaian kejadian aneh mulai menghantui keluarga Zhao. Bisnis mereka merugi, reputasi mereka tercemar. Yun mencoba mencari tahu siapa dalang di balik semua ini, namun setiap petunjuk yang ia temukan hanya mengarah pada satu nama: Li Wei. Di balik senyum manis dan keramahan Wei, Yun merasakan aura gelap yang memancar. Ia mulai mempertanyakan segalanya. Apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu? Apa yang Wei sembunyikan? Suatu malam, Yun mengikuti Wei ke sebuah rumah tua di pinggir kota. Di dalam rumah itu, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi dengan foto-foto dirinya, surat-surat ancaman, dan rencana-rencana jahat. Yun merasa *JANTUNGNYA DICABIK*. Ia tidak percaya bahwa wanita yang dulu ia cintai bisa berubah menjadi monster seperti ini. Wei muncul dari kegelapan, senyum kemenangan terpancar di wajahnya. "Selamat datang di labirin balas dendamku, Yun." Yun menatap Wei dengan mata yang penuh kekecewaan. "Mengapa, Wei? Mengapa kau melakukan semua ini?" Wei tertawa getir. "Kau benar-benar tidak tahu, Yun? Kau benar-benar tidak tahu bahwa *wanita yang menulis surat itu... adalah aku sendiri*?"
You Might Also Like: 104 Navigating Ai Cybersecurity
0 Comments: